Bagi para pencari tuhan, yang disebut “Tuhan” adalah realitas yang tertinggi. Tidak perduli apa, siapa, atau bagaimana tapi yang jelas setiap kebudayaan ataupun pribadi memiliki “realitas yang tertinggi” yang dipercaya. Bahkan seorang yang percaya tidak ada sosok “tuhan” juga sebenarnya memiliki “realitas yang tertinggi.”

Dalam hal orang-orang atheis ini, realitas tertinggi adalah diri mereka sendiri. Mereka adalah “tuhan” bagi diri mereka sendiri. Jadi, sebenarnya ada banyak tuhan-tuhan di luar sana yang setiap kita pasti dengan sadar ataupun tidak sadar akhirnya memilih. Menjadi menarik untuk dipikirkan lebih lanjut, siapa yang sebenarnya menjadi tuhan kita selama ini. Dengan kata lain kita menjadi hamba siapa?

Realitas yang tertinggi ini yang pada akhirnya mendefinisikan 3 hal penting dalam kehidupan kita, yaitu: pusat, standard, dan tujuan. Ketika Yesus menantang orang-orang dengan mengatakan dalam:

Matius 6:24: “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Maka Dia sedang memastikan siapa yang menjadi pusat, standar, dan tujuan kehidupan kita. Ketika mamon menjadi pusat, standar, dan tujuan kita maka mamonlah tuhan kita. Meskipun kita beragama kristen, suka bergereja, suka melayani, tetapi yang menentukan siapakah tuhan kita yang sebenarnya adalah apa yang menjadi realitas tertinggi kita.

Lukas 16:13 (TB) Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Mari kita perhatikan apa yang Paulus katakan kepada jemaat di Kolose:
“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. “(Kol. 1:15. 1:18).

Yesuslah realitas tertinggi kita. Dialah pusat kehidupan kita, standar perilaku sehari-hari, dan Dialah tujuan kita ada. Sebab itu, penting kita mulai melihat apa yang sehari-hari menjadi pusat perhatian kita. Ketika setiap hari kita berfikir untuk memajukan bisnis kita, jangan-jangan mamon adalah tuhan kita. Ketika setiap hari pelayanan yang memenuhi hidup kita, jangan-jangan gereja yang menjadi tuhan kita. Ketika setiap hari kita hanya berfikir keluarga dan anak kita, jangan-jangan keluarga menjadi tuhan kita. Yesus adalah Tuhan, realitas tertinggi kita. Melebihi segalanya. Apakah itu sudah terjadi?.

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya”
II Pet. 3:18

Daily Seeking God
– 10 Tahun Perenungan Mencari Tuhan –

Daily Seeking God adalah kumpulan tulisan Hanny Setiawan selama 10 tahun.  Ditulis secara spontan ketika ada pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri.  Dengan mengikuti “renungan harian” ini diharapan bisa mengerti pergumulan batin selama 2009-2019 penulis.

 

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?fit=1000%2C563&ssl=1https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?resize=1000%2C563&ssl=1adminDaily Seeking Godarti,pusat kehidupan,realitas tertinggi,standarBagi para pencari tuhan, yang disebut 'Tuhan' adalah realitas yang tertinggi. Tidak perduli apa, siapa, atau bagaimana tapi yang jelas setiap kebudayaan ataupun pribadi memiliki 'realitas yang tertinggi' yang dipercaya. Bahkan seorang yang percaya tidak ada sosok 'tuhan' juga sebenarnya memiliki 'realitas yang tertinggi.' Dalam hal orang-orang atheis ini, realitas...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan