BeritaMujizat.com – Profetik – Dalam dua hari (17/04/2019) Indonesia akan memilih pemimpin tertinggi bangsa ini. Secara mengejutkan, pilpres dan pilkada serentak 2019 menjadi sejarah baru dalam pemilihan umum paska reformasi 1998. Mengapa sejarah baru?

Sejarah baru karena setelah 20 tahun, kekuatan orba yang dilengserkan bukannya mati, tapi justru muncul kembali. Dan juga, pertarungan bukan lagi siapa yang lebih baik secara rasional dan profesional, tapi pertarungan kali ini adala pertarungan ideologis. Sebuah medan pertempuran baru yang jauh lebih berbahaya.

Kekuatan Orba dan kekuatan ideologis agama (baca: khilafah) tidak malu-malu lagi muncul dipermukaan di semua lini, mulai dari akar rumput sampai kepada birokrat, pengusaha, bahkan sampai rohaniwan-rohaniwan.

Kekuatan Orba yang bertumpu kepada kekuatan uang tidak bisa dipungkiri adalah kekuatan besar yang telah menjadi kanker dalam tubuh NKRI selama 54 tahun terakhir (1965-2019).

Sementara kekuatan itu ideologis khilafah yang muncul kepermukaan setelah gerakan 212 lahir mampu membangkitkan sel-sel tidur radikalis dan intoleran yang selama ini bersembunyi dan mengintip untuk menyergap.

7 Tahun Jakarta Baru

Sejak 2012, lahirnya pasangan Jokowi-Ahok yang juga membawa PDI-P dan Gerindra ke puncak kepimpinan bangsa adalah awal dari proses pemulihan Indonesia.

Ke-4 elemen ini Jokowi, Ahok, PDI-P, dan Gerindra sekarang ini bermanifestasi dan memimpin didepan. Bisa dibayangkan, apabila ke-4 elemen ini tetap bersatu, maka kekuatan politik yang sangat besar.

Tapi rupa-rupanya, dalam 7 tahun terakhir, tahap pemulihan Indonesia baru ditahap pemurnian. Sebab itu, dalam 7 tahun terakhir, tiba-tiba tokoh-tokoh intelektual yang tidak pernah kelihatan semua muncul dipermukaan.

Bahaya laten Orba, ormas, gerakan sosial, pebisnis, cendekiawan, birokrat, pegawai negeri, sampai akademisi dan mahasiswa yang tidak murni dalam memperjuangkan Pancasila dan Keadilan sosial semua dipaksa keluar dari persembunyiannya. Terbukalah topeng-topeng selama ini yang ditutupi.

Mulainya Era Baru Indonesia

Indonesia Baru yang diwakili oleh Jokowi di 2014 mampu memanifestasikan lagu “sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia” sehingga Indonesia siap memasukan ERA Baru, yaitu Indonesia yang SATU (Oneness) di 2019.

Secara profetis, hal ini menjadi sangat penting sebagai konfirmasi. Bagaimana bangsa-bangsa seperti Malaysia, Jepang, dan Hongkong (China) juga mendapatkan pesan yang sama yaitu New Era of Oneness.

Kesatuan yang utuh dalam kebhinekaan inilah yang dinanti-natikan seluruh elemen bangsa. One Nation, One Family!

7 Tahun sudah selesai, peta sudah berubah. Ahok dan Gerindra adalah 2 elemen yang mengalami pemurnian paling banyak. Secara pribadi maupun politis, Ahok memulai lagi semua dari nol. Keluarga baru, partai baru, dan karir baru bersama PDI-P.

Gerindra, partai yang diharapkan bisa membawa arus baru perubahan nasionalis di awal-awal pendirian, sekarang harus mengalami stagnansi, bahkan tersandera dengan massa ideologis.

Sehingga akhirnya Gerindra harus kompromi sedemikian rupa dan tidak bisa lagi mewakili arus perubahan. Gerindra menjadi Demokrat yang lain, partai oportunis yang hanya sampai pada kepentingan-kepentingan sektarian.

Disisi lain, lahirnya PSI sebenarnya adalah sisi lain dari gerakan 212. Jadi Ahok terpecah menjadi PSI & 212. Secara nilai-nilai BTP maka Ahok termanifestasi di PSI, sementara itu Ahok juga telah menjadi “martir politik” yang mampu membuka kotak pandora intoleran, dan radikal yang sudah disiapkan sedemikian lama.

Kelahiran gerakan 212 adalah sebuah blessing in disguise karena sebenarnya 2017 mereka belum siap untuk muncul, tapi karena Ahok kelahiran mereka akhirnya menjadi prematur.

Bagaimana Ekklesia di Indonesia?

Semua yang terjadi adalah manifestasi dari keputusan-keputusan Ilahi. Dan keputusan-keputusan Ilahi selalu berhubungan dengan Ekklesia sebagai tubuh Kristus dan perwakilan Kerajaan di bumi. Prinsip inilah yang dipercaya dalam gerakan apostolik profetik.

Istiah kingdom now seringkali disebutkan juga kepada kelompok yang percaya bahwa Kerajaan Surga tidak hanya sudah datang, dan akan datang, tapi sedang terjadi disaat ini. Sehingga setiap segmen kehidupan manusia di politik, ekonomi, sosial, budaya, bisnis, olah raga, dan yang lain-lain semua secara aktif terjadi interaksi antara bumi dan surga.

Mat 6:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” 

Dari apa yang termanifestasi di panggung politik nasional, secara profetis Pilpres 2019 dapat kita artikan sebagai berikut:

  1. Roh mammon dan agamawi adalah dua spirit utama yang membelit gereja Tuhan di Indonesia. Pengajaranyang mengajarkan sukses secara jasmani, dan teologi-teologi liberal, humanis, bahkan “alkitabiah” tapi tidak percaya lagi dengan peran Roh Kudus menjadi akar dari permasalahan rohani di GerejaNya.
  2. Hancurnya keluarga Ahok adalah pesan profetik yang sangat kuat. Ahok sukses dan berhasil sekaligus berpengaruh, tapi keluarga dia berantkan. Ekklesia di Indonesia harus berani melihat kedalam, bahwa keberhasilan yang luar biasa dalam penginjilan, gereja-gereja lokal, dan pergerakan-pergerakan di Indonesia tidak diimbangi dengan ONENESS dari Tubuh Kristus di Indonesia, sehingga keluarga kerajaan di Indonesia masih dalam tahap yang sangat dini, bahkan boleh dikatakan berantakan.
  3. Selama 7 tahun terakhir gereja Tuhan mengalami banyak pemurnian. Dan ini waktunya memulai Era Baru apostolik profetik dimana bentuk kerasulan yang baru (new apostolic model) sedang dilepaskan sehingga lahir keluarga apostolik yang baru yang siap mengangkat Tabut Perjanjian menuju destinasi yang akan datang.
  4. 2019 adalah 70 tahun setelah perang kemerdekaan dengan Belanda. 2019 adalah titik awal secara de facto kemerdekaan Indonesia, setelah 1945 secara de yure Indonesia merdeka dari Jepang. Ini waktunya Indonesia Baru maju, dan mulai mengambil tongkat otoritas dan sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Dari sisi rohaninya, gereja Tuhan sudah waktunya tidak mengekor barat, dan mengimpor teologi darimanapun, tapi mulai munculkan identitas asli dari Ekklesia di Indonesia.

Semua rencanaNya adalah rencana yang terbaik. Rencana Ilahi untuk Indonesia adalah rencana akhir zaman, bukan hanya jalan tol yang akan menyambungkan pulau-pulau, tapi dari Indonesia baru, Asia baru, sampai kepada Yerusalem yang baru, itulah peran Indonesia, membawa bangsa-bangsa kembali ke Yerusalem.

Siapa bertelinga hendaklah mendengar apa yang Roh Kudus katakan!

Roma 11:25 Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. 11:26 Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan,…

Penulis : Hanny Setiawan

Comments

https://i2.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2019/04/Screen-Shot-2019-04-15-at-14.03.04.png?fit=635%2C355&ssl=1https://i2.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2019/04/Screen-Shot-2019-04-15-at-14.03.04.png?resize=635%2C355&ssl=1Hanny SetiawanProfetikjokowi-amin,pilkada,Pilpres 2019BeritaMujizat.com - Profetik - Dalam dua hari (17/04/2019) Indonesia akan memilih pemimpin tertinggi bangsa ini. Secara mengejutkan, pilpres dan pilkada serentak 2019 menjadi sejarah baru dalam pemilihan umum paska reformasi 1998. Mengapa sejarah baru? Sejarah baru karena setelah 20 tahun, kekuatan orba yang dilengserkan bukannya mati, tapi justru...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan