Upacara-upacara keagaaman atau liturgi diketahui sebagai suatu cara untuk berhubungan dengan Tuhan. Masing-masing agama memiliki upacaranya sendiri-sendiri. Dalam perjanjian Lama, upacara keagamaan di kemah suci, dan kemudian di bait suci sangat dijunjung tinggi.

Kitab Imamat memperlihatkan betapa upacara dan liturgi sangat penting bahkan menjadi pusat keagamaan. Terjadi perubahan yang signifikan ketika Yesus lahir. Dalam perjanjian Baru, upacara dan liturgi menjadi agak berbeda secara luarnya.

Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria di Yoh.4 menggambarkan cukup jelas perubahan itu. Sampai akhirnya lahir pernyataan Yesus yang terkenal dalam Yoh 4:24

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24).

Yesus menyatakan dengan jelas bahwa fokus penyembahan tidak lagi di gunung maupun di Yerusalam tapi menyembah dalam roh dan kebenaran. Tiba-tiba arti rohani dan spiritualitas berubah dengan pernyataan ini. Menjalankan upacara keagamaan tidak lagi menjamin spiritualitas.

Paulus dalam suratnya ke Korintus semakin jelas memperlihatkan bahwa upacara dan liturgi yang bahkan menggunakan bahasa roh dan karunia-karunia pun tidak menjamin spiritualitas yang benar (I Kor. 14). Seperti gong yang gemerincing kata Paulus (1 Kor. 13).

Disini bisa dilihat bahwa spiritualitas kristen adalah hubungan pribadi antara Tuhan dan umatNya. Dan ini tidak hanya terjadi dalam upacara atau liturgi. Tapi terjadi di setiap waktu secara berkesinambungan.  Sebab itu I Tes 5:17 mengatakan “Tetaplah Berdoa”. Ef. 6:18 mengatakan “.. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh..” Dan secara eksplisit disebutkan Paulus dalam suratnya ke Kolose:

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kol. 3:17).

Hadirat Tuhan yang 24 jam 7 Hari inilah esensi dari spiritualitas kristen sejati. Bukan sekedar dari upacara-upacara dan liturgi, tapi setiap detik, jam, hari, bulan dan tahun, hubungan yang selalu terkoneksi dengan tahta surga itulah yang harus diusahakan.

Daily Seeking God
– 10 Tahun Perenungan Mencari Tuhan –
Daily Seeking God adalah kumpulan tulisan Hanny Setiawan selama 10 tahun.  Ditulis secara spontan ketika ada pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri.  Dengan mengikuti “renungan harian” ini diharapan bisa mengerti pergumulan batin selama 2009-2019 penulis.

 

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?fit=1000%2C563&ssl=1https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?resize=1000%2C563&ssl=1adminDaily Seeking GodRenungan HarianUpacara-upacara keagaaman atau liturgi diketahui sebagai suatu cara untuk berhubungan dengan Tuhan. Masing-masing agama memiliki upacaranya sendiri-sendiri. Dalam perjanjian Lama, upacara keagamaan di kemah suci, dan kemudian di bait suci sangat dijunjung tinggi. Kitab Imamat memperlihatkan betapa upacara dan liturgi sangat penting bahkan menjadi pusat keagamaan. Terjadi perubahan yang signifikan...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan