Para pencari Tuhan bagaikan musafir di padang gurun yang mencari jalan keluar untuk kembali. The seekers selalu tidak puas dengan status quo, selalu ingin mencari. Kodrat inilah membuat begitu banyak agama dan kepercayaan dimuka bumi. Semua pemeluk meyakini jalan – jalan tertentu yang benar.

Keadaan yang sangat plural inilah yang akhirnya membuat manusia berfikir, memang mungkin banyak jalan menuju ke tempat kediaman Tuhan. Sebuah pemikiran logis yang bagi sesama pencari haruslah dihargai.

Keyakinan yang ada sekarang, apabila ditelusur dirangkai dari petunjuk demi petunjuk di masa lalu yang “diyakini” benar. Tetua, sampai para nabi adalah orang-orang yang dianggap mengerti pesan-pesan Ilahi yang memberi petunjuk para musafir untuk pulang rumah.

Kisah seorang nabi tua yang berbohong kepada nabi muda di kitab 1 Raja-Raja memperlihatkan betapa destruktifnya pesan yang salah.

Lalu jawabnya kepadanya: “Akupun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah TUHANseorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air.” Tetapi ia berbohong kepadanya. (I Raj 18:3).

Karena sungkan, dan mencoba menghargai nabi tua itu, yang terjadi adalah malapetaka. Abdi yang masih muda itu akhirnya mati ditengah jalan.

Ia berseru kepada abdi Allah yang telah datang dari Yehuda: “Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah memberontak terhadap titah TUHAN dan tidak berpegang pada segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tetapi kembali dan makan roti dan minum air di tempat ini walaupun Ia telah berfirman kepadamu: Jangan makan roti atau minum air, –maka mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu.” (I Raj 18:21-22).

Kisah pahit para pencari Tuhan yang salah jalan karena petunjuk yang salah. Menghidupi petunjuk yang salah akhirnya akan membawa kepada keyakinan-keyakinan yang salah. Sehingga pada akhirnya tidak sampai rumah.

Para pencari Tuhan harus selalu melihat kedalaman dan waspada, apakah kita “korban” para nabi tua itu? Karena pada akhirnya, pencarian ini tentang kita dan Tuhan, bukan tentang orang lain, sehebat apapun mereka dalam sejarah, dan citra yang dibuat.

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu (Ayub 42:5-6).

-Hanny Setiawan –

Daily Seeking God
– 10 Tahun Perenungan Mencari Tuhan –
Daily Seeking God adalah kumpulan tulisan Hanny Setiawan selama 10 tahun.  Ditulis secara spontan ketika ada pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri.  Dengan mengikuti “renungan harian” ini diharapan bisa mengerti pergumulan batin selama 2009-2019 penulis.

 

Comments

adminDaily Seeking GodRenungan HarianPara pencari Tuhan bagaikan musafir di padang gurun yang mencari jalan keluar untuk kembali. The seekers selalu tidak puas dengan status quo, selalu ingin mencari. Kodrat inilah membuat begitu banyak agama dan kepercayaan dimuka bumi. Semua pemeluk meyakini jalan - jalan tertentu yang benar. Keadaan yang sangat plural inilah yang...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan