gambar hanya sebagai ilustrasi

BeritaMujizat.com – Poleksosbud – Gusdur pernah mengajarkan pada kita semua tentang arti kebangsaan yang dibangun dari perbedaan. Gusdur mengibaratkan Indonesia itu seperti rumah dan kita yang menempati rumah tersebut adalah keluarga yang bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rumah tersebut.

Dalam rumah tersebut ada kamar-kamar pribadi yang menjadi tempat tinggal perbedaan. Setiap agama, suku, dan budaya yang berbeda-beda mempunyai ruang privasi yang dijamin kemerdekaannya, namun harus saling menghormati dalam koridor toleransi. Pengertian ini menjadi pesan yang sangat penting untuk kita semua dalam membangun Indonesia kedepan.

Untuk dapat memperjuangkan Indonesia ditengah tantangan yang muncul dari dalam maupun luar, setiap keluarga Indonesia harus sepakat untuk berdiri teguh pada Pancasila. Hal ini berarti tidak ada kelompok mayoritas yang kuat dan kelompok minoritas yang lemah. Semua kelompok akan lemah apabila tidak didukung kelompok lainya dalam memperjuangkan Indonesia.

Kelompok Islam Pancasila tidak dapat berdiri sendiri sebagai pejuang tunggal. Meskipun secara jumlah mereka adalah mayoritas, kita tidak dapat menitipkan urusan kemajuan bangsa kepada mereka saja. Mereka juga sedang berjuang melawan rong-rongan dari dalam, kelompok yang menggunakan politisasi agama dan aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam.

Kelompok Kristen Pancasila tidak boleh tinggal diam melihat kondisi bangsa ini, hanya karena merasa minoritas dan tidak memiliki basis politk yang kuat. Semua harus berjuang dengan semangat yang sama dan pandangan yang sama berdasarkan kacamata dan baju Pancasila.

Persatuan kelurga tentunya tidak hanya menyentuh ranah moral saja, melainkan harus menyentuh ranah praktis dan menjawab permasalah langsung yang dihadapi masyarakat. Kita harus sama-sama melawan korupsi, kita harus sama-sama menempatkan pemimpin yang kompeten dan bersih, kita harus sama-sama berjuang dalam mengatasi pendidikan dan pembangunan daerah yang tertinggal.

Sebentar lagi Indonesia akan menggelar pesta demokrasi untuk menentukan pimpinan tertinggi dalam lima tahun kedepan. Ini menjadi momen awal untuk kembali membangun keluarga Indonesia yang kemarin sempat hampir terpecah belah oleh politasasi agama yang tidak bertanggung jawab.

Ini juga sekaligus momen untuk memanggil semua anggota keluarga yang selama ini hanya bisa melihat (silent majority) keadaan Indonesia tanpa bisa berbuat banyak. Ini waktunya semua bersuara, bergerak dan bertindak untuk memastikan Indonesia dalam posisi yang aman dan tepat untuk terus maju.

Persatuan keluarga ini akan menjadi rahim untuk melahirkan para negarawan yang semala ini seakan hilang dalam kepemimpinan Indonesia. Sistem politik yang korup dan transaksional menjadi penyebab teripinggirkannya seorang negarawan dari bursa kepemimpinan yang ada. Pesan ini harus diterjemahkan dalam bahasa politik, ekomoni, pendidika,  sosial dan budaya, yang menyentuh seluruh lapisan masayarakat.

 

Pempimpin : Gilrandi ADP

Sumber gambar

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/03/242-kerukunan_umat_beragama_di_indonesia_masih_relatif_baik.jpg?fit=650%2C360&ssl=1https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/03/242-kerukunan_umat_beragama_di_indonesia_masih_relatif_baik.jpg?resize=650%2C360&ssl=1Gilrandi ADPMandat BudayaPoleksosbudKebangsaan,Keluarga Indonesia,Persatuan  BeritaMujizat.com - Poleksosbud - Gusdur pernah mengajarkan pada kita semua tentang arti kebangsaan yang dibangun dari perbedaan. Gusdur mengibaratkan Indonesia itu seperti rumah dan kita yang menempati rumah tersebut adalah keluarga yang bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rumah tersebut. Dalam rumah tersebut ada kamar-kamar pribadi yang menjadi tempat tinggal perbedaan. Setiap...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan