BeritaMujizat.com – Mandat Budaya – 2020 akan menjadi tahun yang dikenang dalam sejarah. Tidak pernah terpikirkan bagaimana seluruh dunia bisa bersamaan mengalami pandemi, dan tiba-tiba gereja-gereja harus merubah cara beribadah,  dan mulai diperdebatkan soal Perjamuan Kudus, dan bisa merambat ke hal-hal lain.

Hampir serempak, apalagi setelah dikeluarkan Perppu tentang PSBB (pembatasan sosial berskala besar), gereja mulai berpindah untuk mengadakan ibadah online. Ketika pertama kali gereja online muncul, “penolakan” dan sentimen negatif diberikan gereja konvensional terhadap “umat online”.

Perjamuan Kudus juga menjadi bahan perdebatan, akhirnya PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) memberikan opsi-opsi, salah satunya adalah menunda Perjamuan Kudus. Bagi gereja-gereja yang lebih “bebas”, dirumah-rumah jemaat melayani diri sendiri.  Dan itu belum bisa diterima sebagian gereja tradisional.

Ibadah online pun mulai ada “aturan-aturan”, harus berpakaian rapi, bahkan ada persembahan juga, duduk depan TV, atau Laptop, dan berbagai macam aturan lainnya.  Terlihat betapa roh agamawi itu bisa menyesuaikan diri dengan sangat cepat.

Antara Aturan Dan Esensi

Esensi gereja, ibadah, dan menjadi murid Kristus menjadi pesan utama selama Covid19.  Terlihat, Gereja atau lebih tepatnya gereja-gereja lokal, dan denominasi terlihat  kebingungan menghadapi perubah seradikal ini.  Akhirnya dalih yang digunakan adalah “ini keadaan luar biasa”, sebab itu justifikasi akan perubahan-perubahan akan aturan-aturan gereja diperbolehkan.  Apakah ini bukan kompromi?

Yang sedang terjadi adalah, institusi-institusi gereja, dan para pemainnya (pendeta, guru, diaken, pemimpin denominasi) sedang “dipaksa Tuhan” untuk melihat atau tepatnya menyadarkan tentang banyaknya aturan dalam kita mengikut Yesus dalam apa yang kita sebut “pelayanan”, sehingga akhirnya hidup kita diatur oleh aturan-aturan gerejawi, yang kristen, tapi sebenarnya tidak esensi.

Ibadah online seharusnya menampar muka kita semua yang ngotot bahwa ibadah yang tertib dan teratur itu hanyalah ketika kita duduk manis di gereja, dan baju terbaik kita untuk “menyenangkan hati Tuhan”.  Saat ini ibadah dengan gitar sederhana bersama keluara, berdoa, dan menangis bersama keluarga terasa lebih menyentuh daripada rutinitas ibadah.

Apakah Gereja itu sebenarnya, bagaimana kita ikut Yesus yang sebenarnya? Perlukan atau esensikah tetek bengek liturgi yang selama ini kita lakukan.  Jangan-jangan semuanya itu adalah aturan-aturan yang kita bikin sendiri dan menjadi taurat-taurat baru yang membebani murid-murid Yesus sejati.

Perubahan Struktur, Norma Baru

Perubahan struktur, dan norma baru terjadi berkali-kali dalam sejarah kekristenan.  Mulai dari Abraham, Ishak, Yakub, sampai akhirnya lahir Yusuf, generasi ke-4 yang menjadi Bapa, Pemimpin, dan Penguasa Mesir dan menyiapkan orang sisa Israel menjadi bangsa Israel, akhrinya harus berubah juga ketika sampai kepada jaman Musa dan Harun.

Israel harus merubah struktur, dan hidup dalam norma yang baru di padang gurun. Dan perubahan itu terjadi lagi ketika Israel harus menyeberang Yordan, dan tinggal di tangah perjanjian.  Manna berhenti. Mereka harus bekerja, perang, dan hidup menetap, tidak mengembara lagi.

Yesus datang, perubahan radikal terjadi.  12 murid dilatih dan disiapkan dengan cara yang benar-benar berbeda. Sampai akhirnya Yesus mati, bangkit, dan naik kesurga. Para Rasul mengambil posisi baru, dan tiba-tiba semua berubah lagi.  Para Rasul harus dikejar-kejar, dan akhirnya mati sahid untuk Injil. Dalam selama 3 abad pertama, darah martir ada dimana.  Penderitaan selama Covid19 tidak bisa dibandingkan dengan itu.

Sejak konstantinopel, Kekristenan menjadi sebuah institusi.  Romawi jatuh, tapi “roh romawi” masuk dan mengkamiri apa yang disebut “gereja”, meskipun banyak pembaharuan, kebangunan, dan perbaikan, tapi tudung “roh romawi” itu tetap berselingkuh dengan “roh agamawi” yang termanifestasi dengan begitu banyaknya aturan-aturan gereja disemua denominasi yang ada. Sementara permintaan Yesus cuma satu, “Ikutlah Aku.”

Covid19 Masalah Dan Berkat

Covid19 adalah masalah global, itu tidak bisa ditutup mata.  Imbas dari pandemi Covid19 akan terasa di ekonomi dan kehidupan masyarakat.  Perubahan tidak bisa dihindari, dan harus dihadapi. Tapi bukankah itu sudah terjadi jaman Yusuf, dan kalau kita bisa tanya Petrus, Thomas, Yakubus, dan murid-murid lainnya yang sekarang di surga mana yang lebih berat jaman mereka atau jaman Covid19? Mereka akan tertawa, dan kita sudah maklum jawabannya.

Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”  (Ibr 12:3-6)

Ini waktunya kita sebagai Gereja Tuhan yang AM, satu Tubuh Kristus, mulai menangkap isi hati Bapa kita. Bahwa antara Bapa dan Anak hubungan tidak berdasarkan aturan, tapi saling mengasihi. Aturan ada karena kita sudah jatuh dalam dosa, dan perlu ada rambu-rambu, tapi sejarah mencatat, di taman Firdaus cuma ada satu 1 aturan (Kej 2:16-17), itupun gagal ditaati, apalagi begitu banyak aturan apakah kita mampu mentaati semuanya?

Kita harus bisa mengungakan masa tenggang Covid119 untuk bisa kembali ke esensi menjadi murid Yesus dan menjadi kristen.  Kita letakan dulu semua yang kita mengerti apa yang disebut kekristenan, dan kembali menjadi seperti apa yang Yesus mau.

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. (Yoh 5:19)

Kalau Yesus “hanya” melakukan kehendak Bapa, mengapa kita mengerjakan yang lain, yang mungkin bukan kehendak Bapa? Yoh 10:27 memperlihatkan bagaimana seharusnya menjadi murid dan pengikut Yesus yang benar “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,”

Membutuhkan keberanian untuk membuang aturan-aturan yang membebani (Kis 15:28)  Perubahan selalu tidak mudah, Covid19 memberikan tanda bagi kita, bahwa Tuhan yang global, sedang merubah tatanan dunia global, sehingga bangsa-bangsa, sampai kepada kota-kota,  dan kepada pribadi kita harus berubah menyesuaikan (alignment) dengan struktur dan norma yang baru.

Tiang Awan, dan Api sudah bergerak lagi, apakah kita akan diam atau mengikuti pimpinan Tuhan? Agenda Tuhan selalu agenda yang global, dan saat ini 2020 adalah saat bersejarah bagi kita semua, karena dunia dipaksa untuk masuk dalam agenda Kerajaan.  Bukan Covid19 yang pegang kendali, tapi Tuhan Abraham, Ishak, dan Yakub, Tuhan Israel, yang kita kenal namanya Yesus Kristus yang memegang kendali.

Penulis : Hanny Setiawan

 

Comments

https://i2.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/04/gereja-masker.jpg?fit=720%2C405&ssl=1https://i2.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/04/gereja-masker.jpg?resize=720%2C405&ssl=1Hanny SetiawanGerejaMandat Budayacorona,covid19,pandemi,virus,virus coronaBeritaMujizat.com - Mandat Budaya - 2020 akan menjadi tahun yang dikenang dalam sejarah. Tidak pernah terpikirkan bagaimana seluruh dunia bisa bersamaan mengalami pandemi, dan tiba-tiba gereja-gereja harus merubah cara beribadah,  dan mulai diperdebatkan soal Perjamuan Kudus, dan bisa merambat ke hal-hal lain. Hampir serempak, apalagi setelah dikeluarkan Perppu tentang PSBB (pembatasan...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan