Ketika kita berfikir bahwa kita hidup hanya kebetulan, dan setelah itu berakhir, maka kita kehilangan arti yang paling dalam dari KEHIDUPAN. Kehidupan bukan sekedar berjuang untuk mendapatkan makan, minum, dan tempat tinggal. Artinya kita hidup hanya untuk bertahan hidup. Tidak ada arti lebihnya. Betapa sia-sianya semua yang kita lakukan. Tidak ada ubahnya dengan binatang. Pengkotbah mengatakan:

Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia (Pkh. 3:19).

Lalu apa artinya semuanya ini? Mengapa kita hidup? Mengapa harus ada Tuhan yang mengatur semuanya?. Mengapa kita harus menurut Dia?. Mengapa Dia begitu semena-mena dengan aturan-aturanNya yang kadang terkesan kejam dan tidak punya hati?. Deretan pertanyaan-pertanyaan yang bisa bertambah panjang lagi tentunya.

Pertanyaan-pertanyaan yang memperlihatkan bahwa kita memang sudah terlalu jauh dari Dia. Kita sudah “amnesia” (baca: lupa ingatan) akan jati diri kita. Begitu lupanya kita, sehingga Dia mencari kita “dimanakah engkau?”. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”.(Kej 3:9).

Pertanyaan yang sangat penting untuk kita renungkan sekarang ini. Sedang ada dimanakah kita sekarang?. Apakah kita semakin mendekati, semakin mengerti, semakin tahu siapa Tuhan kita?. Ataukah kita sibuk “bertahan hidup” disekolah-sekolah, kampus-kampus, tempat kerja, gereja-gereja, atau apa saja demi mengisi kehidupan?.

Kita tidak sedang sekedar mampir di bumi ini. Ada tujuan Ilahi yang harus kita penuhi, sehingga kehidupan berarti. Tuhan mencari kita untuk kembali kepada panggilan hidup kita yang sebenarnya. Panggilan untuk melanjutkan sebuah cerita besar. Cerita Tuhan! Kita hidup dalam sebuah cerita yang bersambung. Perhatikan kata-kata Musa berikut:

Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. (Kel. 3:6).

Allah Musa, adalah Allah Abraham, Ishak, Yakub. Tidak ganti-ganti. Dia tetap Allah yang sama di Firdaus dan yang memulai sejarah dan terus memproses sejarah, dan akan menyelesaikan pekerjaan tanganNya (Fil. 1:6). “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibr. 13:8).

Bagian kita adalah menjalankan peran kita di ceritaNya. Dialah alfabet kita (Alpha dan Omega, Why 1:8, 21:6, 22:13), yang membentuk kata-kata, paragraf, bab demi bab dari kehidupan kita. Dimanakah kita? Apakah masih dalam ceritaNya atau sudah diluar cerita?. Dia tetap Allah yang sama. Mari kita lanjutkan sejarah dengan mulai membuat sejarah yang menjadi bagian kita. (yhs)

Daily Seeking God
– 10 Tahun Perenungan Mencari Tuhan –

Daily Seeking God adalah kumpulan tulisan Hanny Setiawan selama 10 tahun.  Ditulis secara spontan ketika ada pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri.  Dengan mengikuti “renungan harian” ini diharapan bisa mengerti pergumulan batin selama 2009-2019 penulis.

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?fit=1000%2C563&ssl=1https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?resize=1000%2C563&ssl=1adminDaily Seeking GodKetika kita berfikir bahwa kita hidup hanya kebetulan, dan setelah itu berakhir, maka kita kehilangan arti yang paling dalam dari KEHIDUPAN. Kehidupan bukan sekedar berjuang untuk mendapatkan makan, minum, dan tempat tinggal. Artinya kita hidup hanya untuk bertahan hidup. Tidak ada arti lebihnya. Betapa sia-sianya semua yang kita lakukan. Tidak...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan