Waktu terus berjalan, dan kehausan dan kelaparan untuk mengenalNya  semakin tidak tertahan. Semakin jauh tenggelam dalam pencarian, semakin disadari betapa kecilnya otak manusia untuk mengerti.

Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca. Sesungguhnya, pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya. (Yes. 40:15).

Seperti sebuah mikrokosmos demikianlah kira-kira dunia dan umat manusia dihadapan sang Pencipta. Terlalu kecil untuk dilihat dengan mata biasa. Sebab itu pencarian yang sudah berlangsung ribuan tahun pun seakan tidak membawa kemana-mana. Tuhan seakan sesuatu yang begitu jauh untuk digapai dan tidak mengerti keadaan kita sehari-hari. Tapi apakah Dia begitu tidak relevan-nya dengan kita, dan hanya menjadi miliki segelintir teolog, pendeta, pengkotbah, ulama, kiai, ataupun orang-orang yang suci lainnya?.

Sebab itu umat-Ku akan mengenal nama-Ku dan pada waktu itu mereka akan mengerti bahwa Akulah Dia yang berbicara, ya Aku! (Yes 52:6).

KebesaranNya adalah ketika Dia mau menjadi kecil untuk kita sehingga kita yang kecil mulai bisa mengerti kebesaranNya. Dimulai dengan Dia bicara! Ya, luar biasa. Dia berbicara kepada kita dalam bahasa yang kita mengerti dan bukan hanya itu, Dia selalu berbicara sampai kita mengenalinya.

Raja Daud sangat mengerti hal ini, dia mengatakan “Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, gunung batuku, aku berseru, janganlah berdiam diri terhadap aku, sebab, jika Engkau tetap membisu terhadap aku, aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur.” (Maz. 28:1). Tidak bisa hidup tanpa mendengar. Hal yang luar biasa.

Dan inilah yang justru sekarang kita sering lupa. Kita mencari dengan bicara, dan tidak bisa mendengar. Tidak bisa mendengarNya minta air minum karena kehausan, mendengarNya minta makanan karena kelaparan, mendengarNya menangis karena ketidakadilan, mendengarNya berteriak ditengah keputusaan karena dosa-dosa yang terus dibuat, mendengarNya berbisik rindu karena kesibukan kita sehari-hari.

Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. (Mat. 25:42-43).

Biarkan Dia berbicara dan mengajar kita segala rahasia kehidupan. Apapun yang menjadi kehausan dan kelaparan kita akan terjawab. Tugas kita adalah mendengar. Mendengar Dia berbicara melalui hati kita, melalui dunia kita, melalui keseharian kita, melalui apa dan siapa saja. Biarkan Dia bicara! (yhs)

 

Daily Seeking God
– 10 Tahun Perenungan Mencari Tuhan –

Daily Seeking God adalah kumpulan tulisan Hanny Setiawan selama 10 tahun.  Ditulis secara spontan ketika ada pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri.  Dengan mengikuti “renungan harian” ini diharapan bisa mengerti pergumulan batin selama 2009-2019 penulis.

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?fit=1000%2C563&ssl=1https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?resize=1000%2C563&ssl=1adminDaily Seeking GodWaktu terus berjalan, dan kehausan dan kelaparan untuk mengenalNya  semakin tidak tertahan. Semakin jauh tenggelam dalam pencarian, semakin disadari betapa kecilnya otak manusia untuk mengerti. Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca. Sesungguhnya, pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya. (Yes. 40:15). Seperti sebuah mikrokosmos demikianlah kira-kira...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan