Pyongyang Great Revival (1907-1910) – Korea

From 150 Years of Revival by Mathew Backholer

Misionaris Protestan pertama ke Korea adalah seorang penginjil dari Welsh, Rev Robert Jermain Thomas. Dia tiba di Korea di tahun 1866 dimana dia menjual alkitab dalam bahasa Tiongkok kuno yang dapat dibaca oleh orang Korea, Jepang dan Tionghoa saat itu dan dia menghadapi resiko dipenggal kepalanya jika ketahuan oleh pemerintah. Korea saat itu masih kerjaan tertutup bagi orang asing.

Pada tanggal 2 September 1866, Rev. Robert Jermain Thomas martir di tepi sungai yang terletak di pinggir kota Pyongyang, Korea Utara bersamaan dengan kru pedagang namun menghasilkan revival pecah di tahun 1907.

Di tahun 1886, Presiden Korea pertama dibaptis dan pada tahun 1887, ada 7 orang Korea yang ditobatkan dan ini merupakan revival besar pertama di tahun 1903 dan dikenal sebagai Wonsan Revival Movement dan kedua aliran Kekristenan, yaitu Presbiterian dan Metodist menuai tuaian besar sebagaimana mereka bersatu untuk meninggikan Yesus Kristus. Di tahun 1904, terdapat 10.000 jiwa menerima Yesus di Pyongyang dan di pertengahan tahun 1906, setelah 30.000 jiwa terima Yesus di tahun itu, revival meredup.

Pyongyang, yang saat ini adalah ibu kota dari Korea Utara, dulunya adalah kota anggur, wanita dan lagu. Dulunya kota ini sangat gelap di awal abad 20 dengan dosa yang terikat kuat bahkan parahnya, kota ini dulu memiliki sekolah pelatihan para Gisaeng, sebutan wanita penghibur di Korea atau yang umum dikenal dengan sebutan Geisha, namun ini adalah kota dengan kegerakan Revival kedua di tahun 1907-1910.

Misionaris John McCune dalam suratnya menulis ‘…Karya Roh Kudus disini ada di Gereja Jangdaehyun dimana revival pertama kali pecah dan melebihi revival besar di Wales dan India..’

Pada bulan September 1906, Dr. Howard Agnew Johnston dari New York saat berada di Seoul, yang saat ini adalah ibu kota dari Korea Selatan, menginformasikan kepada kelompok misionaris dan Umat Kristen disana mengenai Hills Revival (1905-1906) di India.

Jonathan Goforth, misionaris di Tiongkok dan Manchuria menulis bahwa karena momen ini para misionaris di Pyongyang, baik itu Presbytarian dan Methodist bertemu bersama untuk mengadakan doa bersama untuk ‘berkat yang lebih besar.’

Selama waktu-waktu Natal, umat Kristen di Pyongyang bertemu tiap malam untuk berdoa. Malam doa itu berhenti sejenak saat ada Pyongyang General Class namun dilanjutkan kembali di siang hari bagi mereka yang bisa hadir.

Penyebar alkitab dari Gereja Kan Kai di sepanjang sungai Yalu dari 250 umat Kristen juga berada di Seoul. Dia mendengar Dr. Johnston dan mendorong gerejanya untuk bertemu dalam sebuah pertemuan doa jam 5 pagi pada saat musim gugur dan musim dingin di tahun 1906-1907. Selama 6 bulan mereka berdoa sampai Roh Kudus datang seperti banjir.

… Selatan Pyongyang, Jonathan Goforth melewati Songdo, ibu kota Korea kuno. Di tahun 1907, revival menambahkan sekitar 500 jiwa kuntuk gereja, namun selama sebulan dari pertemuan khusus itu di tahun 1910, sekitar 2.500 jiwa masuk gereja karena panen raya besar-besaran (Yohanes 4:35).

Jonathan Goforth menulis : ‘Saat kami mengunjungi Seoul di tahun 1907, gereja sangat ramai. Seorang misionaris berkata bahwa tour selama 6 minggu dia telah membabtis sekitar 500 orang dan tercatat 700 orang terima Yesus bahkan sebelum dibaptis dan dalam satu tahun telah menambah sekitar 25 jiwa. Selama tahun 1910, terdapat 13 ribu orang di Seoul yang menandatangai kartu komitmen mereka menjadi umat percaya dan di bulan September tahun itu, gereja-gereja Methodist menerima 3000 jiwa dibaptis.

Di bagian barat ibu kota, tepatnya di port Chemulpo, Misi Methodist, di tahun 1907, memiliki 800 jemaat. Di pangkalan seberangnya, yang merupakan pulai dengan 17.000 penduduk, dan gereja disitu telah membabtis jemaatnya yang berjumlah 4,247 dan mereka sama-sama berdoa sampai satu pulau menjadi umat percaya.

… di tahun 1910, Lembaga Alkitab Inggris melalui penyebarnya menjual sekitar 666,0000 kita untuk orang Korea. Gereja di Sang Sim Li, yang melahirkan 16 gereja misi di daerah itu, dalam hubungannya dengan Million Movement percaya akan 400 jiwa baru diselamatkan dan sejak saat itu mereka mengambil iman dan memperlebar gereja merkea hingga 225 ft.sq, yang sebelumnya hanya 36 ft.sq

Paget Wilkes, pendiri Japanese Evangelistic Band mengunjungi Korea di bulan Maret 1911. Dalam journalnya dia menulis mengenai kisah Sensen Magistrate, kota di sebelah utara Jepang, dimana 1 dari 3 penduduk adalah umat Kristen. Saat ditanya apa yang terjadi disana, dia berkata “pergi dan temui misionarisnya; mereka memimpin Sensen,” begitu tulis Paget.

Paget Wilkes menulis bahwa pada tanggal 26 Maret 1911 dia mennghabiskan malam dengan Dr. Underwood, salah satu misionaris tertua di Korea yang berkata

“24 tahun lalu aku datang ke Korea dan tidak ada orang Kristen sama sekali. Sekarang ada 200.000 umat percaya, 1 dari 50 populasi adalah umat percaya.”

 

Diterjemahkan : Yesaya Wisnu Wardhana

Sumber :  ByFaith

 

Comments

https://i0.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/03/Screen-Shot-2018-03-23-at-10.34.33-PM.png?fit=750%2C519https://i0.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/03/Screen-Shot-2018-03-23-at-10.34.33-PM.png?resize=750%2C519adminRevivalKorea UtaraPyongyang Great Revival (1907-1910) - Korea From 150 Years of Revival by Mathew Backholer Misionaris Protestan pertama ke Korea adalah seorang penginjil dari Welsh, Rev Robert Jermain Thomas. Dia tiba di Korea di tahun 1866 dimana dia menjual alkitab dalam bahasa Tiongkok kuno yang dapat dibaca oleh orang Korea, Jepang dan...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan