meliana

BeritaMujizat.com – Poleksosbud – Gegap gempita pembukaan Asian Games tiba-tiba harus dinodai dengan Kasus ibu Meiliana di Tanjung Balai yang harus di bui 18 bulan karena dianggap menista agama. Kali ini yang memicu api adalah suara Toa (adzan) yang dianggap terlalu keras oleh sang Ibu.

Supaya bisa lebih mengerti konteks putusan itu, berikut adalah berita dari detik.com yang bisa memberikan gambaran apa yang terjadi.

Perkara berawal dari keluhan Meiliana terhadap volume pengeras suara masjid yang dinilainya terlalu keras. “Kak tolong bilang sama uwak itu, kecilkan suara masjid itu kak, sakit kupingku, ribut,” ujar terdakwa kepada tetangga seperti yang dibacakan dalam tuntutan jaksa. Setelahnya pengurus masjid sempat mendatangi rumah Meiliana.

Namun tanpa diduga pertemuan tersebut malah membuat keadaan semakin meruncing. Keluhan terdakwa ditanggapi masyarakat muslim Tanjung Balai dengan membakar 14 vihara umat Buddha. Pihak keluarga sempat meminta maaf. Namun upaya rekonsiliasi bertepuk sebelah tangan.

(sumber)

Dan yang perlu diberi catatan khusus, BBC.com memberitakan bahwa laporan kepolisian atas ibu Meliana ini bukan dilakukan oleh masyarakat, tapi justru oleh pihak kepolisian sendiri.

Laporan terhadap M, menurut Rina (catatan: Jubir Kombes Sumut, Rita Ginting), tidak diajukan oleh masyarakat, melainkan oleh polisi sendiri lewat salah seorang anggota Babinkamtibmas mereka.

(sumber)

Terlihat bahwa ada desakan sosial karena motivasi agama yang lebih kuat daripada soal hukum  (baca: MUI Tanjungbalai: Bukan Soal Pengeras Suara, Tapi Meliana Tidak Mengerti Kerukunan).  Bukankah kasus ini bagaikan pinang dibelah dua dengan  kasus Ahok?  Kasus yang akan selalu”catatan ireng” sehitam kali ireng dalam sejarah Indonesia.

Sebab itu, terlepas dari keberhasilan di bidang infrastruktur, dan politik, Jokowi memiliki PR besar untuk menyembuhkan luka keadilan dalam beragama yang menganga besar. Mampukah Jokowi?

Kita Tidak Diam!

Ribut cawapres Jokowi dari Mahfud MD ke Kiai Maruf Amin (KMA) menunjukkan bahwa Jokowi melihat isu-isu soal keadilan agama itu penting. Tapi terlihat juga bahwa Jokowi “tersandera” atau paling tidak kata yang lebih lunak adalah “terkepung”.

KMA, Prabowo, dan Sandi adalah 3 pendukung demo 212.  KMA sendiri kapasitasnya adalah ketua MUI pusat. Jadi pada kasus Meiliana ini pun KMA adalah stakeholder utama.  Itu tidak bisa dipungkiri.

Isu penistaan agama ini sangat tidak seksi untuk meraup suara. Sebab itu Prabowo-Sandi dan antek-anteknya pasti akan berhati-hati dalam menyentuh isu ini. Sementara itu, untuk KMA sendiri, kasus ini sudah kartu mati. Artinya lebih baik tidak disinggung lagi.

Bagaimana Jokowi? Jokowi pun akan bermain normatif apabila didesak. Karena putusan hakim sudah diberikan, dan tidak ada keuntungan politik apapun.  Jadi, kalau kita mau jujur sekarang ini Ibu Meiliana hanya punya Tuhan yang membela.  Karena Tuhan tidak berpolitik.

Tapi Tuhan itu baik, Dia menggerakkan orang-orang awam untuk menyuarakan keadilan di sosial media.

Rumadi Ahmad, saksi ahli di kasus ini bahkan secara terbuka menuliskan di laman FB-nya sebagai berikut:

Ibu Meiliana, maafkan aku. Ternyata keterangan saya sebagai saksi ahli dalam persidanganmu tak didengarkan hakim. Hakim lebih memilih bisikan lain, daripada bisikanku. Saya sudah berusaha sekuat pengetahuan yang saya miliki untuk membebaskankanmu dari tuduhan melakukan penodaan agama, meskipun saya tahu biasanya hakim tidak akan tahan dengan tekanan massa…

….

….

Sayangnya keterangan saya tak dipertimbangkan hakim, sebagaimana dalam kasus-kasus sejenis di tempat yang lain.

Saya tahu, ke depan hidupmu akan semakin berat. Meski Anda masih punya hak hukum untuk melakukan perlawanan ke Peradilan yang lebih tinggi, tp saya juga tidak terlalu yakin. Sekali lagi, maafkan saya yang belum bisa membantumu bebas dari kasus ini.

Bandara Soetta, 22 Agustus 2018

Rumadi Rahmad

(Sumber)

Birgaldo Sinaga, seorang aktivis sosial media yang gigih mendukung Jokowi, Ahok dalam konteks menegakkan keadilan pun dengan perih menuliskan:

Dear Ibu Meiliana… 
Apa yang bisa ku perbuat untuk vonis tidak adil 18 bulan penjara hanya gegara meminta suara toa dikecilkan?

Perasaan pilu, sesak dada dan getaran perih pedih mu juga turut ku rasakan…

Keadilan masih jauh dari kita…

Tetap tegar dan kuat Bu…

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Kasus ini sudah menjadi viral di sosial media, dan dukungan terhadap ibu Meiliana ini sangat kuat. Hal ini menandakan bahwa pada dasarnya nurani bangsa ini masih ada dan hidup, tapi oligarki kekuasaan masih sangat kuat.  Apakah Jokowi mampu menjawab ini?

Kiai Maruf Amin Kuncinya!

KMA sudah terpilih dengan sah dan demokratis menjadi cawapres Jokowi. Suka atau tidak, KMA diijinkan Tuhan untuk menjadi bagian dari sejarahNya bagi bangsa ini. Bagi pendukung Jokowi (dan Ahok) yang menghendaki Jokowi menuntaskan semua pekerjaan di periode ke-2 harus menerima KMA dengan lapang dada.

Meskipun demkian, KMA seharusnya tidak take it for granted! Artinya, KMA harus mau juga berubah. Dan mulai mengerti bahwa menjadi ketua MUI, dan Rois Am NU, berbeda dengan menjadi cawapres.

Menjadi cawapres adalah menjadi pemimpin semua umat, bukan hanya umat tertentu. Gagal untuk melihat itu, dan/atau menganggap enteng hal itu akan membuat luka akan semakin dalam. Dan apabila dibiarkan, pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat menggunakan untuk memicu “api lain”.

Dengan kata lain, KMA harus bisa menjadi “ulama semua umat” dan mulai menggerakan semangat rekonsiliasi bangsa. Dan Jokowi harus bisa melihat ini sebagai narasi besar yang harus terus dipegang.

Jadi, Jokowi-KMA masih menjadi pilihan terbaik dibanding Prabowo-Sandi dalam menyelesaikan soal intoleransi seperti ini. Prabowo-Sandi adalah politisi praktis yang menikmati posisi dari demo 2012. Mereka hanya mengalir dimana kepentingan mereka dipenuhi. Prabowo-Sandi adalah oportunis, bukan idealis.

Sebagai catatan penting, KMA adalah Rois AM NU (Nahdatul Ulama), ormas Islam terbesar di Indonesia dan di dunia, stakeholder di NU sangat multidimensi, sebab itu kita bisa berharap bahwa setelah menjadi Cawapres, KMA bisa menjadi “kakak yang baik” seperti Ismael terhadap Ishak (Keluarga Ibrahim).

Lalu, bagaimana ibu Meliana? Seperti juga Ahok, biarlah mereka bisa menjadi “pahlawan-pahlawan” demokrasi yang mampu membuka mata dunia, bahwa intoleransi, dan ketidakadilan, serta ketimpangan hukum masih ada di Indonesia.  Perjuangan belum selesai. Lanjutkan!

 

Jika negara mengesampingkan keadilan, negara itu tidak lain ialah gerombolan perampok yang besar
(Agustinus, De Cevitate Dei)

 

Penulis : Hanny Setiawan

 

 

 

Comments

https://i2.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/08/Screen-Shot-2018-08-22-at-18.42.07.png?fit=725%2C362https://i2.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/08/Screen-Shot-2018-08-22-at-18.42.07.png?resize=725%2C362Hanny SetiawanMandat BudayaPoleksosbudMeiliana,Tanjung BalaiBeritaMujizat.com - Poleksosbud - Gegap gempita pembukaan Asian Games tiba-tiba harus dinodai dengan Kasus ibu Meiliana di Tanjung Balai yang harus di bui 18 bulan karena dianggap menista agama. Kali ini yang memicu api adalah suara Toa (adzan) yang dianggap terlalu keras oleh sang Ibu. Supaya bisa lebih mengerti konteks...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan