BeritaMujizat.com – Poleksosbud – Kegaduhan demi kegaduhan yang terus terjadi hingga saat ini sangat berkaitan erat dengan mimbar. Melalui mimbar, agama muncul sebagai kekuatan besar yang sangat menggiurkan untuk dimanfaatkan sebagai kepentingan politik, khususnya dalam rangka merebut kekuasaan.

Mimbar dinilai menjadi tempat strategis untuk menggalang kekuatan politik melalui relawan-relawan agama yang militan, yang sesungguhnya mempunyai kerinduan untuk mencari Tuhan. Model ibadah satu arah menjadikan mimbar sebagai satu-satunya sumber suara kebenaran yang harus diterima dan dihidupi oleh jemaat.

Hal ini menjadikan jemaat hanya bisa taat dengan perintah atau ajaran yang disampaikan oleh pemimpin agama atau orang yang berdiri dibelakang mimbar. Bahkan apabila mereka menolak atau mengkritisi perintah ajaran yang disampaikan, mereka bisa dianggap berdosa terhadap agama dan Tuhan.

Ketaatan seperti ini dapat menjebak seseorang dalam pandangan agama sempit, yang dapat mendorongnya melakukan hal konyol atau kegilaan-kegilaan atas nama agama. Hal-hal konyol dan kegilaan atas nama agama itulah yang menjadi sumber kegaduhan yang muncul di masyarakat saat ini.

Hal ini menunjukan mimbar mempunyai kekuasaan absolut yang mampu menggerakan jemaat dan mempengaruhi sudut pandang jemaat. Secara otomatis orang yang berada di balik mimbar atau dipercaya sebagai pemimpin agama mempunyai posisi penting dan strategis.

Oleh karena itu banyak orang mencoba melobi para pemimpin agama atau berusaha menjadi pemimpin agama agar dapat merebut mimbar demi tujuan membangun kekuatan politik tertentu. Ini adalah ancaman serius dan peperangan yang harus disadari oleh Gereja.

Celakanya peperangan merebut mimbar ini cukup sulit untuk dibongkar karena semuanya tersembunyi dalam kebaikan atau kesucian agama. Hal ini semakin dipersulit karena pemimpin agama kekuasaan yang absolut sehingga sikap kritis terhadap mimbar Gereja dapat dipakai untuk membangkitkan amarah jemaat sebagai dalih ancaman terhadap Gereja.

Gereja harus berani menarik garis dari upaya-upaya orang-orang yang hendak mencemari mimbar Gereja untuk kepentingan tertentu. Caranya Gereja harus berani mentransformasi mimbar dan tata ibadah dengan belajar mendengar secara korporat pemimpin Gereja yang ada di mimbar dan jemaat.

Hal ini harus dilakukan agar kekuasaan absolut Gereja kembali pada Tuhan dan bukan dimiliki oleh petinggi Gereja atau orang tertentu. Setiap orang belajar bergantung pada bimbingan Roh Kudus bukan tergantung pada organisasi Gereja atau hamba Tuhan semata.

Seharusnya jemaat bukan obyek Gereja atau agama yang dapat diperlakukan seenaknya para pemimpin Gereja melalui mimbar-mimbar Gereja. Mimbar harus jadi tempat orang belajar mengerti Tuhan bukan tempat untuk mencetak robot-robot rohani yang mempunyai pandangan sempit soal agama.

 

Penulis : Gilrandi ADP

 

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/04/pulpit_caro_original_48918-e1524404989785.jpg?fit=800%2C500https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/04/pulpit_caro_original_48918-e1524404989785.jpg?resize=800%2C500Gilrandi ADPMandat BudayaPoleksosbudGereja dan Politik,Mimbar Gereja,Transformasi ibadahBeritaMujizat.com - Poleksosbud - Kegaduhan demi kegaduhan yang terus terjadi hingga saat ini sangat berkaitan erat dengan mimbar. Melalui mimbar, agama muncul sebagai kekuatan besar yang sangat menggiurkan untuk dimanfaatkan sebagai kepentingan politik, khususnya dalam rangka merebut kekuasaan. Mimbar dinilai menjadi tempat strategis untuk menggalang kekuatan politik melalui relawan-relawan agama...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan