BeritaMujizat.com – Mandat Budaya – Sosial media diramaikan kembali dengan akan diadakannya Paskah Bersama di Monas yang akan dilayani Gilbert Lumoindong. Poster-poster online bersliweran di timeline dengan mayoritas menyayangkan yang Gilbert lakukan.

Aktifis sosmed Brigaldo Sinaga dengan gigih menolak dan dengan tegas menyatakan di status FBnya:

Aneh rasanya dulu aku gigih mati2an lawan aksi 212 di Monas. Sekrg ada org Kristen bikin aksi agama di Monas masak aku diam sj.

Sumber

Poin Brigaldo cukup jelas, concern yang perlu didengar dan didukung.  Demo 411, dan 212 telah menimbulkan trauma bagi rakyat Indonesia. Didepan mata kita, koalisi antara para agamawan dan politisi telah berhasil “menyalibkan” seorang Ahok di Mako Brimob.

Bukan hanya itu demo-demo itu telah membangkitkan sel-sel radikal yang ternyata telah menyusup di bangsa yang besar ini di semua lini, mulai dari kampung, universitas, PNS, sampai parpol yang dengan terang-terangan membuka diri untuk eks-eks ormas terlarang.

Dengan latar belakang yang sangat strategis dan politis, mengganggap Paskah (dan acara keagamaan yang lain) di Monas sebagai sekedar acara keagamaan biasa adalah naif, bahkan sudah masuk ranah munafik dan manipulatif.

Apa Yang Dicari Gilbert?

Panggung. Gilbert adalah profesional pembicara, hidupnya dari panggung ke panggung, lagipula bukan yang pertama dia melakukan di Monas. Dalam konteks yang berbeda, acara di Monas tidak ada kontraversinya. Bagaikan Paskah outdoor yang diakukan sekolah-sekolah Minggu di banyak gereja-gereja lokal.

Tapi itulah disitulah justru masalahnya, konteks Paskah Monas tidak bisa secara naif dapat dikeluarkan dari konteks politik praktis yang sedang dimainkan. Pihak-pihak pendukung demo 411 dan 212 jelas sedang mencari justifikasi kebenaran atas apa yang pernah mereka lakukan ; menggunakan agama menurunkan Ahok.

Memberikan justifikasi kepada penjahat melakukan kejahatan adalah sebuah kejahatan by and in itself. Sekaliber Gilbert yang sudah malang melintang lama tidak mungkin dia tidak mengerti hal ini. Inilah yang disayangkan, dan perlu diklarifikasi.

Satu hal penting perlu dicatat, posisi Gilbert sebagai inisiator (terlihat dari siapa yang mengundang – GBI Glow Fellowship Center) memperlihatkan kesengajaan, bukan ketidaktahuan. Dan hal ini semakin menyakitkan. Atau mungkin ada donatur yang demikan besar yang mendorong Gilbert sedemikian rupa?

Semua adalah kemungkinan dan semua tetap menyakitkan. Apapun alasannya Paskah Monas tidak sensitif dengan kebatinan bangsa, dan Tubuh Kristus di Indonesia secara universal.  Apakah hal ini tidak dilihat lagi dalam mengikut Yesus?

Nasihat Seorang Saudara

Organisasi Gereja aras nasional terlihat tidak mendukung Paskah yang konon akan dilakukan Subuh 1 April 2018 tersebut. Tapi apakah hak mereka melarang, mereka hanya bisa menghimbau. Sama persis seperti Yacob Nahuway mengerahkan jemaat untuk Natalan bersama Pemkot DKI. Itu hak-hak mereka sendiri, sekaligus tanggung jawab dengan Tuhan masing-masing.

Sebagai Saudara dalam Kristus, polemik yang tidak perlu ini sangat disayangkan. Muncul dari Bapak-Bapak rohani yang seharusnya lebih sensitif lagi mengerti hati Tuhan yang termanifestasi melalui suara Tubuh Kristus, yaitu orang-orang percaya independen (baca : jemaat biasa) yang bersuara melalui sosial media.

Mengapa sosial media? Karena kebuntuan “orang-orang atas” menyuarakan suara kenabian kepada para pemimpin, jemaat biasa yang bagaikan rakyat kecil bersuara langsung dan saling berjejaring lintas gereja, pemimpin, bahkan teologi.

Sederhananya, Paskah adalah hal baik yang setiap orang Kristen yang percaya Yesus Kristus mati dan bangkit untuk menghapus dosa, menebus hidup, dan menempatkan kita di posisi KerajaanNya mempelajari, menghidupi, dan memperingatinya.

Paskah adalah sesuatu yang sakral bagi iman Kristen, mengkhamiri dengan politik adalah sebuah hal yang sangat tercela. Sebab itu, sebelum terlambat (atau sudah), lebih baik Paskah Monas dibatalkan atau lebih baik dipindah ketempat lain yang lebih kondusif dan bebas politisasi.

Doa saya untuk Pak Gilbert Lumoindong, dan seluruh Jemaat Tuhan di Jakarta dan sekitarnya supaya tetap teguh dan lurus di jalanNya.  Dalam Yesus Kita Bersaudara, sebab itu ijinkan saya mengingatkan Saudaraku Gilbert Lumoindong.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. (I Kor 10:23)

Paskah di Monas diperbolehkan Pemkot DKI, tapi tidak berguna untuk Tubuh Kristus karena terkhamiri maksud-maksud politis. Semoga usulan bisa diterima baik.

 

Penulis : Hanny Setiawan

 

 

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/03/Screen-Shot-2018-03-26-at-2.01.45-PM.png?fit=585%2C374https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/03/Screen-Shot-2018-03-26-at-2.01.45-PM.png?resize=585%2C374Hanny SetiawanGerejaMandat Budayamonas,paskah monasBeritaMujizat.com - Mandat Budaya - Sosial media diramaikan kembali dengan akan diadakannya Paskah Bersama di Monas yang akan dilayani Gilbert Lumoindong. Poster-poster online bersliweran di timeline dengan mayoritas menyayangkan yang Gilbert lakukan. Aktifis sosmed Brigaldo Sinaga dengan gigih menolak dan dengan tegas menyatakan di status FBnya: Aneh rasanya dulu aku gigih...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan