BeritaMujizat.com – Poleksosbud – Lapangan Monumen Nasional  atau lebih dikenal sebagai lapangan Monas sejatinya adalah simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lapangan Monas yang kini megah berdiri, dulunya adalah lapangan Ikada yang menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan Indonesia.

Sayangnya sejak pilkada DKI lalu, lapangan Monas berubah makna menjadi monumen duka nasional, bagi kita orang yang percaya akan lahirnya Indonesia baru . Pasalnya salah satu putra terbaik Kristen yang bekerja keras demi melawan koruptor, yang menjadi penyakit kronis bangsa ini, harus tumbang oleh demo berjilid-jilid yang diadakan di Monas.

Demo yang membawa nama agama tersebut menyeret seorang Ahok dalam pengadilan misterius yang selama ini masih menimbulkan banyak pertanyaan. Demo yang diadakan di Monas ini sangat kental dengan isu SARA yang tentunya mencederai persatuan atas kebhinekaan yang selama ini dijunjung tinggi oleh Bangsa ini.

Demo tersebut juga berhasil mengubah pesta demokrasi menjadi perang urat syaraf yang menimbulkan trauma masyarakat. Belum juga trauma yang diakibatkan demo tersebut hilang, masyarakat kembali digegerkan dengan munculnya seorang hamba Tuhan yang tergerak mengadakan acara Paskah akbar di Monas.

Acara ini sesungguhnya bertujuan mulia karena melalui acara ini Pak Pendeta Gilbert Lumoindong selaku hamba Tuhan hendak menyampaikan pesan perdamaian dan merangkul semua pihak untuk membangun persatuan di Jakarta. Akan tetapi acara ini ternyata menimbulkan polemik karena dianggap melukai Ahok dan orang-orang yang percaya dengan harapan akan adanya sebuah perubahan yang Tuhan berikan melalui seorang Ahok.

Memaksakan acara di Monas, apalagi memberi panggung dan merilis simbol persatuan pada seorang tokoh yang masih tercoreng dengan isu politisasi agama, dianggap melukai Ahok dan orang-orang yang sedang berjuang untuk keadilan seorang Ahok dan mereka yang sedang membongkar praktik busuk politisasi agama yang merusak bangsa.

Siapa yang Lebih Diurapi?

Ini menarik untuk dicermati karena baik Ahok atau pak pendeta Gilbert keduanya sama-sama dipercaya sebagai perwakilan Kristen yang diurapi dan membawa pesan penting dari surga. Seharusnya apabila keduanya merupakan orang kunci yang diurapi dan dipakai Tuhan untuk perubahan bangsa ini, keduanya pasti akan dapat bersinergi.

Pesan kenabian yang disampaikan melalui hamba Tuhan harusnya menjadi petunjuk bagi orang-orang yang dipanggil Tuhan bidang praktis seperti politik, hukum, sosial atau ekonomi. Akan tetapi suara kenabian yang disampaikan pak pendeta Gilbert pada acara paskah Monas justru memperberat posisi Ahok yang sedang berjuang mengungkap keadilan dan kebenaran.

Sebagai orang Kristen yang waras dan merdeka, apakah kita akan mengikuti suara kenabian dari pak pendeta Gilbert, yang meminta kita melupakan hal-hal buruk yang terjadi pada pilkada DKI lalu dan mulai kembali merangkul semua orang termasuk orang-orang yang dicurigai sebagai tokoh penyebar politisasi agama.

Ataukah kita akan terus mendampingi Ahok dalam memerangi politisasi agama dan ketidakadilan yang harus dia tanggung, dengan bersikap kritis dan menarik sikap tegas terhadap bahaya politisasi agama yang masih berpotensi untuk muncul di pilkada-pilkada yang akan datang.

Ini seharusnya menjadi pertanyaan dan perenungan pribadi setiap Gereja dan sekaligus menjadi otokritik untuk Gereja itu sendiri. Pertanyaan ini memperjelas kita bahwa pertentangan soal Paskah Monas bukan soal boleh atau tidaknya menggelar acara disana. Ini juga bukan untuk menyerang pribadi hamba Tuhan atau tokoh Kristen siapapun.

Pertanyaan ini muncul dari kegelisahan yang diakibatkan dari ketidakharmonisan antara hamba Tuhan yang membawa pesan Ilahi, dengan praktisi yang betugas menjadikan pesan tersebut menjadi sebuah kenyataan. Perlu terus dikritisi dan dibawa dalam doa, dimana titik yang menyebabkan ketidakharmonisan ini.

Jangan sampai blunder Gereja seperti pada waktu pilpres lalu terulang dan kembali menyesatkan puluhan ribu orang. Urapan yang tidak disertai hikmat akan menjadi lubang yang akan dimanfaatkan oleh kekuatan gelap untuk melancarkan politisasi agama yang sangat berbahaya.

 

Penulis : Gilrandi ADP

 

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/04/ffff-e1522771530882.jpg?fit=800%2C437https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/04/ffff-e1522771530882.jpg?resize=800%2C437Gilrandi ADPMandat BudayaPoleksosbudAhok dan Gilbert,Diurapi,paskah monasBeritaMujizat.com - Poleksosbud - Lapangan Monumen Nasional  atau lebih dikenal sebagai lapangan Monas sejatinya adalah simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lapangan Monas yang kini megah berdiri, dulunya adalah lapangan Ikada yang menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan Indonesia. Sayangnya sejak pilkada DKI lalu, lapangan Monas berubah makna menjadi monumen duka...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan