BeritaMujizat.com – Poleksosbud – Kita mempunyai harapan besar kepada Gereja agar mampu memberi solusi atas fenomena politik yang sedang bergejolak di bangsa ini. Gereja diharapkan dapat bertindak dan bersuara dengan waras, ditengah banyaknya hal-hal gila sedang mengusik negeri ini.

Alkitab bahkan telah memberi mandat sangat besar kepada Gereja agar menjadi terang dan garam yang mampu mengubah keadaan. Garam dan terang bukan tugas yang sepele dan mempunyai tanggung jawab yang sangat besar.

Dia harus berfungsi dan dapat bekerja dengan baik, karena jika garam dan terang tidak berfungsi maka sebaiknya dia dibuang saja, kata Alkitab. Mandat yang sangat besar ini seharusnya sangat cukup buat Gereja bertindak dan bersuara di tengah situasi yang sedang genting saat ini.

Akan tetapi saat ini banyak Gereja justru mulai menunjukan gejala-gejala ketidakwarasan  dalam bersikap dan bersuara soal politik. Gejala ketidakwarasan Gereja dimulai waktu doa kemenangan Prabowo-Hatta pada pilpres lalu. Jelas sekali ada keperpihakan Gereja atas tokoh politik tertentu, pada acara tersebut.

Gejala ketidakwarasan Gereja juga kembali muncul ketika Gereja adem ayem dan memilih untuk diam atas kasus Ahok. Anehnya PGI yang dianggap sebagai perwakilan Gereja-Gereja jutru bersuara atas kasus Prof Rocky Gerung yang diduga menistakan agama, sama dengan seperti kasus Ahok.

Bahkan belum lama ini terjadi polemik yang semakin menunjukan ketidakwarasan Gereja dalam bertindak dan bersuara soal politik. Polemik tersebut adalah paskah monas dan rencana kegiatan acara gereja lain di Monas.

Disaat banyak pihak mencoba mengingatkan Gereja untuk sementara tidak memakai Monas dikarenakan ada bahaya politisasi agama yang sedang mengancam, Gereja justru tidak memperdulikan. Mereka bahkan marah dan mengangap pihak yang memperingatkan mereka akan bahaya politisasi agama sebagai orang gila yang berpihak pada jokowi ahok.

Dalam hal ini Gereja justru bersikap konyol seperti para kecebong dan kampret yang merupakan sebutan bagi orang-orang yang sedang ribut soal politik di media sosial. Perbincangan politik berubah menjadi hal sensitif yang dapat memicu perpecahan jemaat.

 

Sikap Gereja seperti ini mengakibatkan banyak orang Kristen menjauhi politik. Mereka merasa politik sangat gila dan harus dihindari. Mereka jadi lupa bahwa ketika orang Kristen diam dengan keadaan yang ada mereka sebenarnya adalah yang gila.

Ini menunjukan bahwa ada penyakit yang mencoba menggroti kewarasan Gereja dari dalam. Penyakit ini lebih berbahaya dari pada isu-isu selama ini muncul dan membuat gaduh. Mengembalikan fungsi Gereja sebagai terang dan garam yang benar lebih mendesak dari sekedar ribut soal ganti atau Jokowi.

Kita harus memastikan Gereja kembali pada kasih karunia Tuhan, bukannya takut pada donatur atau pemberi perpuluhan terbanyak. Kita juga harus mengembalikan otoritas Gereja yang coba digadaikan dengan iming-iming uang dan fasilitas.

Comments

https://i0.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/04/iman-dan-politik-5600e3dc367b61d605fb9b30-e1524828322717.jpg?fit=760%2C476https://i0.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/04/iman-dan-politik-5600e3dc367b61d605fb9b30-e1524828322717.jpg?resize=760%2C476Gilrandi ADPMandat BudayaPoleksosbudgereja,politikBeritaMujizat.com - Poleksosbud - Kita mempunyai harapan besar kepada Gereja agar mampu memberi solusi atas fenomena politik yang sedang bergejolak di bangsa ini. Gereja diharapkan dapat bertindak dan bersuara dengan waras, ditengah banyaknya hal-hal gila sedang mengusik negeri ini. Alkitab bahkan telah memberi mandat sangat besar kepada Gereja agar menjadi terang...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan