minoritas

BeritaMujizat.com – Poleksosbud – Gelombang ketidakpuasan terhadap KMA (Kiai Maruf Amin) sebagai cawapres ternyata dilihat lawan politik Jokowi sebagai lubang kelemahan yang terus digarap. Petahana, tingkat kepuasan, dan elektablitas Jokowi yang demikan superior membuat lawan politik Jokowi memutar otak, dan mengerahkan apapun untuk menjungkalkan Jokowi.

Baik disengaja atau tidak, narasi besar sementara ini yang hendak dimainkan adalah narasi minoritas teraniaya. Setelah sukses dengan narasi mayoritas teraniaya, maka lawan Jokowi meskipun mengatakan akan fokus isu ekonomi, tapi rupa-rupanya melihat bahwa mengipasi api yang sudah tersulut untuk mengerogoti Jokowi.

Setiap momen dan “kebetulan” akan terus dipakai untuk mengadu kelompok-kelompok dalam masyarakat menggunakan isu SARA.  Coba kita lihat rententan peristiwa akhir-akhir ini:

Setelah naiknya tokoh 212 KMA menjadi Cawapres yang membuat riak Golput,

tiba-tiba muncul isu TK Probolinggo yang parade menggunakan cadar dan AK-47 (senjata teroris),

belum selesai tiba-tiba kabar tidak menyenangkan datang dari Tanjung Meiliana, kasus Meiliana (18 bulan penjara) karena penistaan agama,

dan yang terbaru sebuah “tabrakan maut” yang dilakukan seorang bos keturunan Tionghoa di Solo hendak di plintir menjadi kerusuhan rasial (baca: Tabrak Pemotor hingga Tewas, Pemilik Sedan Mercy Jadi Tersangka Pembunuhan)

Gelombang demi gelombang ketidakpuasan terhadap penegakan hukum kasus-kasus berbau SARA membuat Jokowi terlihat “terpojok.  Melihat ini, kelompok lawan Jokowi terasa dapat angin dan terus memborbadir titik lemah ini.

Sampai tulisan ini dibuat, Jokowi seperti biasa tetap tenang menunggu ditengah kegaduhan. Dan KMA yang masih ada di tanah suci masih belum memulai langkah apapun untuk menenangkan bola panas ini.  Semua menunggu.  Pertaanyaannya, berapa lama yang teraniaya ini bisa bertahan untuk tidak dipolitisasi?

Seperti kita ketahui bersama, politik adalah soal momentum. Semua pihak sedang mencari momentum demi momentum untuk membangun momentum terbesar di hari H, 19 April 2019.  Kegagalan menjaga momentum ini bisa berakibat fatal.

Kelompok minoritas dalam konteks SARA harus bisa melihat bagaimana Lawan Jokowi mencoba menggunakan kekuatan minoritas untuk menggerakkan mayoritas melalui konflik. Boleh suka atau tidak, cara kasar seperti ini adalah cara satu-satunya yang mereka tahu untuk menjatuhkan Jokowi.

Sebab itu, kelompok minoritas harus bangun dari mimpi-mimpi indah. No perfect world! Yang ada adalah dunia yang sudah rusak. Dunia yang sudah menjadi seperti dunia binatang, makan atau dimakan!

Sebab itu semua “kelompok waras” harus berkumpul melawan kelompok “tidak waras”.  Meskipun tingkat kewarasan tiap-tiap sub kelompok berbeda, tapi paling tidak ada orang-orang waras yang bisa melihat bahwa Jokowi bukan perfect A student, dia hanyalah orang yang tepat, di waktu yang tepat muncul di Indonesia.  Artinya, memilih Jokowi adalah memilih kewarasan.

Narasi minoritas teraniaya adalah narasi jahat yang mencoba mengadu domba kelompok masyarakat. Dan narasi itu tidak akan laku dibeli apabila kita semua tidak ikut tersihir dan mengikuti genderang tarian ketidakwarasan.

 

Penulis : Hanny Setiawan

 

 

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/08/Screen-Shot-2018-08-24-at-00.19.53.png?fit=841%2C398https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/08/Screen-Shot-2018-08-24-at-00.19.53.png?resize=841%2C398Hanny SetiawanMandat BudayaPoleksosbudkamis,minoritas pendeta,selolah mingguBeritaMujizat.com - Poleksosbud - Gelombang ketidakpuasan terhadap KMA (Kiai Maruf Amin) sebagai cawapres ternyata dilihat lawan politik Jokowi sebagai lubang kelemahan yang terus digarap. Petahana, tingkat kepuasan, dan elektablitas Jokowi yang demikan superior membuat lawan politik Jokowi memutar otak, dan mengerahkan apapun untuk menjungkalkan Jokowi. Baik disengaja atau tidak, narasi besar...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan