ahok

BeritaMujizat.com – Mandat Budaya – PK Ahok tidak disetujui, maka secara teknis, karir politik Ahok sampai ketitik nol. Kalau dianalogikan, Ahok sudah disalibkan, dan sudah mati. Darah dan air sudah keluar dari lambungnya. Airmata, balon, lilin, sampai teriakan sosial media tidak mampu membendung roh agamawi untuk membunuh karir politik Ahok.

Ketidakadilan yang dipertunjukkan di depan rakyat Indonesia, dan warga dunia hampir dalam 2 tahun terakhir membuat kita semua bertanya, masih adakah harapan untuk Indonesia? Minimal masih adakah harapan untuk Ahok-Ahok yang lain muncul di Indonesia?

Ahok tidak lagi hanya satu sosok pribadi. Dia adalah perwakilan dari sebuah kegelisahan yang 20 tahun lalu mampu menjungkirbalikkan Suharto, sang diktator yang tidak hanya “mengkanibal” rakyat sendiri, tapi juga bertanggung jawab dengan pembelokan sejarah bangsa selama puluhan tahun.

Artinya, daya dobrak sebuah kegelisahan massa bagaikan hulu ledak bom nuklir yang mampu menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki. Tembok sebesar apapun bisa hancur. Temboh pemisah Jerman Barat dan Timur pun hancur karena kegelisahan, dan tanda-tanda runtuhnya tembok Korea Utara dan Selatan pun sudah nampak. Semua karena adanya kegelisahan.

Kegelisahan Ahok

Kegelisahan Ahok adalah kegelisahan orang banyak. Bersih Transparan Profesional (BTP) adalah sebuah kerinduan bersama, lintas agama, lintas umur, lintas budaya, lintas sosial, lintas partai, bahkan lintas negara.

Indonesia yang bersih, transparan, dan profesional adalah sebuah mimpi dari apa yang disebut INDONESIA BARU. Basuki Tjahaya Purnama dengan tepat telah mengartikulasikan itu kampanye BTP, sekaligus menghidupinya.

Bahkan, Ahok dipenjara pun karena berusaha mengentaskan rakyat pulau seribu dari kebodohan, dan spirit of slavery (roh perbudakan) secara bersih, transparan, dan profesional. Sebab itu percakapan itu pun diunggah di You Tube, tidak disembunyikan.

Kegelisahan itu akhirnya bermanifestasi di balon, bunga, dan lilin, dan ribuan bahkan jutaan artikel dan status sosmed sampai detik ini. Ini adalah fenomena yang tidak kalah dengan semangat 20 tahun lalu ketika Suharto terjungkal.

Mungkinkah Ahok Kembali?

Kalau 2030 bisa diramalkan Indonesia bubar, dan jendral-jendaral mengatakan itu sebuah kemungkinan, apa sulitnya mengatakan bahwa kemungkinan seorang Basuki kembali selalu ada. Apalagi Narapidana pembunuhan saja bisa menjadi ketua parpol, dan narapidana korupsi menjadi anggota DPRD, apa yang tidak mungkin?

Jokowi sudah bekerja sangat baik. Tapi hanya Jokowi tidak akan membawa bangsa ini keluar dari dari perbudakan para koruptor. Jokowi hadir untuk membuka jalan sebuah perubahan yang lebih besar, dan he is doing a good job. Yang menjadi PR besar adalah setelah Jokowi, siapa yang akan memelihara jalan tol dan infrastruktur yang lain? Itulah yang harus disiapkan mulai sekarang.

Bagaimana caranya kembali? “Dihari yang ke-3” dia akan bangkit kembali. 3 hari artinya semua proses sudah selesai, semua legal standing TETELESTAI (Sudah selesai) di court of heaven (pengadilan surga).

Di pengadilan dunia Ahok boleh kalah, tapi dihadapan pengadilan surga kita menunggu dan akan menyaksikan keputusan sang Raja yang memiliki otoritas jauh lebih tinggi dari seorang Artidjo Alkostar (Ketua Hakim Agung).

Bangkitnya Ahok tidak harus berbicara soal posisi politik atau pemerintahan, tapi lebih dari itu, yang akan terjadi adalah “kegelisahan BTP” akan terus memuncak sampai akhirnya menjadi sebuah momentum lahirnya seorang pemimpin baru yang BTP, untuk meneruskan jalan yang sudah disiapkan Jokowi.

Salam Indonesia Baru

 

Penulis : Hanny Setiawan

 

 

Comments

https://i2.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/03/Screen-Shot-2018-03-30-at-12.05.27-PM.png?fit=700%2C392https://i2.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/03/Screen-Shot-2018-03-30-at-12.05.27-PM.png?resize=700%2C392Hanny SetiawanMandat BudayaPoleksosbudahok,Karir PolitikBeritaMujizat.com - Mandat Budaya - PK Ahok tidak disetujui, maka secara teknis, karir politik Ahok sampai ketitik nol. Kalau dianalogikan, Ahok sudah disalibkan, dan sudah mati. Darah dan air sudah keluar dari lambungnya. Airmata, balon, lilin, sampai teriakan sosial media tidak mampu membendung roh agamawi untuk membunuh karir politik...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan