film-indonesia-baru
– Editorial –  Tahun 2012 boleh dikatakan tahun kebangunan demokrasi Indonesia. Ketika pasangan Jokowi-Basuki (JB) melahirkan visi Jakarta Baru melalui kemenangan heroik melawan pasangan Foke -Nara. Keheroikan Jokowi-Basuki (Ahok) yang “cuma” didukung PDI-P dan Gerindra, tapi terasa sekali bagaimana rakyat mendukung dengan sangat antusias.

Kelahiran Jasmev (Jokowi Ahok Social Media Volunteer) juga menandai kelahiran politik digital yang menemukan momentumnya di pilpres 2014. Di tahun 2014, pertarungan Jokowi-Prabowo bisa dikatakan petarungan demokrasi Indonesia.  Isu SARA, dan kampanye hitam yang meledak karena unsur sosial media, apabila tidak ditangani dengan baik bisa meruncing menjadi kerusuhan. Tapi itu tidak terjadi. Tuhan menyertai Indonesia. Dia punya rencana untuk Indonesia Baru.

Naiknya Jokowi menjadi presiden ke-7 Indonesia di tahun 2014, juga sekaligus menaikkan Ahok menjadi gubernur DKI. Dan aliran perubahan itu terus membesar karena faktor etnis, agama, dicampur gaya kepimimpinan Ahok yang meledak-ledak.

Ketidakkompromian Ahok dengan korupsi, kekakuan dalam negosiasi, ditambah kasus-kasus politis seperti Sumber Waras dan Reklamasi semakin membuat Ahok semakin menjadi musuh ideologis kubu religi, dan oportunis.

Keadaan ini semakin meruncing ketika Teman Ahok mendukung Ahok jalur Independen dan mendesak parpol-parpol untuk berfikir ulang desain politik untuk Jakarta. Momentum kembali ditemukan ketika Ahok dan Teman Ahok berhasil mendapatkan 1 juta KTP.  Momentum yang akhirnya mampu membawa PDI-P partai pemenang Pilpres 2014 untuk mengusung Ahok.

Di posisi itu, demokrasi Indonesia diuji. Minoritas ganda yang ada dalam diri Ahok mau tidak mau adalah kebaruan dalam demokrasi Indonesia, terutama paska orde baru. Apabila lawan Pilkada DKI 2017 adalah lawan-lawan politik yang memang secara ideologi berbeda, maka bisa dibayangkan betapa mencekamkan kondisi Pilkada DKI 2017.

Munculnya pasangan Anies-Un0, dan Agus-Silvi sebagai lawan Ahok-Djarot di Pilkada DKI 2017 bisa dikatakan sebagai sebuah jalan baru demokrasi Indonesia. Bukan hanya dari segi umur, tapi ketiga pasangan ini adalah pasangan nasionalis, idealis, profesional, dan juga Bhinneka.  Sebab itu, tiba-tiba suasana Pilkada DKI 2017 tidak lagi menjadi mencekam, tapi mulai penuh kecerian demokrasi. Ini sebuah kemajuan.

Lupakan Ahok, Anies, atau Agus sejenak. Kita lihat gambar yang lebih besar, Jakarta Baru. Jakarta yang tidak rusuh seperti 1998, tapi Jakarta yang bisa menerima semua etnis, agama, gagasan, dan ide. Jakarta yang adalah wajah Indonesia sedang diperbarui oleh tangan Tuhan sendiri.

Bukan hanya sungai-sungai yang dibersihkan, tapi sebuah sebuah keluarga sedang dibangun. Itulah pesan untuk kita semua.  Jakarta baru untuk Indonesia Yang Baru.

 

Berita Mujizat Editorial

 

Comments

https://i2.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2016/10/film-indonesia-baru.jpg?fit=454%2C341https://i2.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2016/10/film-indonesia-baru.jpg?resize=454%2C341adminEditorialahok,Anies,Jakarta Baru,Pilkada DKI 2017- Editorial -  Tahun 2012 boleh dikatakan tahun kebangunan demokrasi Indonesia. Ketika pasangan Jokowi-Basuki (JB) melahirkan visi Jakarta Baru melalui kemenangan heroik melawan pasangan Foke -Nara. Keheroikan Jokowi-Basuki (Ahok) yang 'cuma' didukung PDI-P dan Gerindra, tapi terasa sekali bagaimana rakyat mendukung dengan sangat antusias. Kelahiran Jasmev (Jokowi Ahok Social Media...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan