Screen Shot 2018-02-03 at 1.57.51 AM

BeritaMujizat.com – Editorial – Sekejap mata bulan Januari 2018 sudah selesai, dan kita sudah mulai bulan baru Februari 2018. Dari kasus Ahok – Vero, riuhnya Jakarta, baksos Gereja yang dihentikan kelompok SARA, sampai yang terakhir ulahKetua BEM UI yang secara tidak senonoh meniup peluit ketika Presiden RI Jokowi sedang berpidato, memberikan taste getir di awal tahun.

Ada 3 penggalan potret yang kita bisa lihat sebagai perwakilan apa yang akan terjadi di politik 2018. Yang pertama, Ahok tetaplah menjadi salah satu tokoh politik yang paling berpengaruh setelah Jokowi walaupun tidak melakukan apapun di dalam penjara. Yang kedua, DKI Jakarta akan tetap menjadi panggung politik utama para oposisi pemerintah membangun narasi besar merebut 2019. Yang ketiga, adalah Jokowi sendiri tetap menjadi bintang utama panggung politik Indonesia.

Bagaimana Ahok?

Sudah sejak 2014, ketika Jokowi menjadi RI, dan Ahok mengambil alih DKI1, Ahok telah menjadi musuh utama para koruptor, oportunis, dan para fanatis buta SARA. Ketika tahun lalu, Ahok berhasil dibui lawan-lawan politiknya, simpati yang luar biasa membuat para stakeholder politik dalam dan luar negeri menoleh.  Mako Brimob telah menjadi mimbar Ahok untuk menyuarakan revolusi BTP, tanpa suara.

Kita semua mengira Mako Brimob adalah titik terendah Ahok, tapi ternyata Tuhan mengijinkan Ahok dibawa ketitik lebih rendah, kemungkinan perceraian dengan Veronica Tan. Meskipun menyisakan sedikit keheranan, tapi para pihak sudah mengakui kasus ini adalah kasus benar, bukan hoax.

Anehnya, pendukung Ahok tidak goyah sedikit pun. Ini luar biasa, secara politis perceraian Ahok adalah test the water untuk melihat apakah Ahok “masih laku” setelah keluar Mako Brimob. Ternyata bukan hanya laku, saham politik Ahok semakin naik. Mengingat Ahok yang tidak memiliki parpol, maka kita bisa membayang kekuatan sosial dibalik brand Ahok.

Kekuatan sosial yang terjadi secara natural dan organik. Kekuatan sosial ini sangat dirindukan para politisi, milyar sampai triliun dibuat untuk politik marketing campaign untuk bisa sampai ke posisi Ahok sekarang. Tapi Ahok mendapatkan ini semua justru melalui penderitaan, dan proses hidup yang luar biasa.

Menarik dalam satu postingan di instagram Ahok melalui tim BTP, Ahok mengutip Imannuel Kant tentang kebebasan.

Ketua BEM UI

Ahok mendefiniskan kebebasan sebagai kuasa (power) untuk tidak melakukan apa yang dimau. Artinya kekuatan dari pengendalian diri. Bukan kehendakku, tapi kehendakMu Tuhan.  Disini kita melihat bahwa Ahok terpenjara secara fisik, tapi secara spirit dia manusia bebas.

Apa artinya ini untuk Indonesia? Bebasnya Ahok secara politik akan sangat menakutkan para lawan politiknya. Meskipun secara legal, sosial, dan personal kartu Ahok sudah ditutup, tapi dalam politik kondisi ekstrim akan membawa kepada kejutan-kejutan yang ekstrim juga.

Ahok bagaikan anak panah yang sudah diregang secara maksimal, dan saat ini sedang dalam proses penyelarasan dengan tujuan Ilahi, dan kita semua menunggu kemana anak panah Ahok ini dilesatkan oleh sang pemanah Agung.

Jakarta, Panggung Oposisi

Paska Ahok, Anies -Sandi berhasil menjadikan Jakarta panggung oposisi pemerintahan Jokowi. Tidak heran wacana wisata halal dengan MUI, dan semua keanehan-keanehan kebijakan di Jakarta telah membuat marah seluruh bangsa.

Spirit of hate (roh kebencian) disebar sedemikian masif dari ibukota. Hampir semua Jokowi – Ahok – Djarot diputarbalikkan demi sebuah narasi besar, menjungkalkan Jokowi. Anies – JK sudah tidak malu-malu lagi memperlihatkan niat menantang Jokowi di 2019.  Penempatan Sudirman Said di Pilkada Jateng pun telah ikut memperlihatkan niat mereka.

Sampai saat ini, Jokowi sudah mampu membaca, sehingga dia lebih banyak di istana Bogor, dan tidak menanggapi langsung semua kegaduhan yang terjadi. Akibatnya, para oposan semakin membenci presiden RI yang pendiam, tapi bekerja.

Pertempuran antara retorika dan kerja jelas telah dimenangkan oleh pihak pekerja. Modal sosial Anies-Sandi semakin habis dan hampir kosong. Realitas ini yang membuat mereka semakin ngamuk dan tidak terkontrol. Apapun dilakukan demi upaya menarik Jokowi ke panggung mereka.

Ketua BEM UI perlu di DO

Jokowi adalah Presiden RI sebuah simbol negara yang mewakili seluruh bangsa. Menghina Jokowi adalah tindakan menghina seluruh bangsa. Jadi tindakan ketua BEM UI yang meniup peluit dan mengacungkan kartu kuning ketika Jokowi sedang berpidato Dies Natali di UI adalah tindakan mencoreng muka kita semua sebagai bangsa Indonesia.

Menurut saya, pihak UI perlu ambil tindakan dan men-DO mahasiswa ini.  Mahasiswa yang disinyalir berafiliasi dengan salah satu parpol oposan ini telah memalukan dunia perkampusan.  Sekali lagi, sangat layak di DO dan dipersona nan gratakan.

Lebih pahitnya, Ketua BEM UI ini adalah perwakilan dari generasi yang selama 10 tahun SBY sudah dibrainwash oleh sebuah kekuatan politik agama dan sekarang mereka ini adalah laskan yang sedang diaktifkan.  Para “teroris akademis” yang tidak kalah bahayanya dengan teroris bom.

Kebebasan, Oposisi, dan Generasi Baru

Tiga potret ini yang kita lihat menjadi potret politik 2018. Bangsa kita sedang terjangkiti virus kebodohan sehingga sangat mudah dibodohi. Perlu kemerdekaan, bukan dari penjajah, tapi dari para birokrat, politikus, dan pebisnis kotor.  Antibodi dari virus ini adalah BTP (Bersih, Transparan, Profesional).  Bukan hanya pribadi Ahok, tapi nilai-nilai BTP yang dibawa Ahok inilah yang harus diperjuangkan.

Para oposisi akan terus menyebarkan virus kebodohan ini, karena hanya orang bodoh yang tidak bisa melihat apa yang Jokowi – Ahok kerjakan sejak 2012 – 2014 – sampai sekarang untuk Jakarta dan Indonesia.  Semakin banyak orang bodoh, semakin besar kemungkinan Jokowi dikalahkan di 2019.

Karena orang-orang bodoh ini dalam jumlah yang banyak telah mampu memenjarakan Ahok, orang yang ironisnya mau membebaskan mereka dari kebodohan.

Dan pertaruhan bangsa ini adaah di generasi muda yang ternyata sudah terkena wabah virus kebodohan ini. KLB di suku Asmat tidak semenakutkan wabah yang terjadi di kampus-kampus. Paling tidak Ketua BEM UI sudah memperlihatkannya.

Ini waktunya berdoa, selamatkan bangsa ini dari kebodohan Tuhan, kami mohon.

Penulis : Hanny Setiawan

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/02/Screen-Shot-2018-02-03-at-1.57.51-AM.png?fit=778%2C515https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2018/02/Screen-Shot-2018-02-03-at-1.57.51-AM.png?resize=778%2C515Hanny SetiawanEditorialBaksos,Jokowi,Ketua BEM UI,SultanBeritaMujizat.com - Editorial - Sekejap mata bulan Januari 2018 sudah selesai, dan kita sudah mulai bulan baru Februari 2018. Dari kasus Ahok - Vero, riuhnya Jakarta, baksos Gereja yang dihentikan kelompok SARA, sampai yang terakhir ulahKetua BEM UI yang secara tidak senonoh meniup peluit ketika Presiden RI Jokowi sedang berpidato, memberikan taste getir...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan