mainagama

BeritaMujizat.com – Editorial – Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, kasus-kasus radikalisme agama telah mencoreng kebhinekaan NKRI. Bom Samarinda, Baliho mahasiswi berhijab di UKDW dan Sanata Dharma, sampai berita terakhir ditangkapnya para radikalis di Bekasi, bukanlah sebuah soal kasus di kelas-kelas teologi, tapi sebuah realitas.

Kasus-kasus yang murni agama diatas, masih ditambah kasus-kasus agama yang berbau politis seperti kasus Ahok, demo 411 yang berakhir kisruh, sampai doa bersama 212 yang dibarengi dengan upaya makar.  Ini pun bukan soal kasus dalam kelas, tapi sebuah realitas.

Ketika realitas sudah didepan mata, maka respon harus diberikan. Rencana-rencana proaktif untuk deradikalisasi program jelas adalah hal yang diperlukan. Tapi, tindakan-tindakan reaksi yang berjangka pendek juga harus dilaksanakan.  Harus diingat, ini sebuah realitas.

Bom yang ditemukan densus 88 apabila benar-benar meledak, bukan hanya bikin gatal tubuh, tapi tubuh benar-benar hancur dan raungan airmata sekeras apapun tidak akan menghidupkan sanak, saudara, dan teman kita.  Realitas pahit yang bisa, dan sudah terjadi di Samarinda.

Umat Kristen di Indonesia tidak bisa berdiam diri, tapi harus mulai bertindak dan melawan. Bukan melawan dengan kebencian, tapi melawan dengan kasih karunia.  Karena untuk itulah tugas ekklesia, menjadi garam dan terang dunia.  Gereja harus menghadapi realitas, bukan bersembunyi.

Menarik sekali, justru penulis sosial media populer Denny Siregar yang non- kristen mencoba mengingatkan kita dalam tulisan-tulisannya:

TERKAIT : Umat-umat Manja
TERKAIT : Cerdik Seperti Ular, Tulus Seperti Merpati

Dalam artikel-artikel tersebut, dengan lugas Denny menyatakan beberapa pernyataan yang umat Kristen bisa intropeksi:

Lepaskan eksklusifitas dalam agama kalian. Tidak perlu takut untuk duduk bersama dengan muslim moderat. Persatuan umat adalah tembok penghalang intoleran untuk memecah kita. Keluarlah dari cangkang, jangan lagi sibuk dengan kata “Untuk kalangan sendiri” tapi ketika ada masalah semua umat harus paham…

Saya kira, itulah bagian dari pemahaman “Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati..” Jangan diam saja dan pasrah. Pasrah tanpa usaha sama saja menyerah. Catat, kalian punya hak yang sama sebagai warga negara.

Pemahaman konservatif dalam kekristenan mengenal general grace (kasih karunia yang bersifat umum) dan special grace (kasih karunia yang bersifat khusus).

Dalam konteks general grace, apa yang dikatakan Denny Siregar adalah sebuah kebenaran yang gereja harus tanggapi dan itulah “reaksi” yang tepat.  Artinya, kita tidak bisa berdiam diri, tapi juga tidak bereaksi yang konyol seperti dengan melakuan demo tandingan, atau turun kejalan untuk menunjukkan kekuatan.  Bukan itu yang diharapkan.

Yang diharapkan jelas, persatuan umat beragama. Disini kita harus merapat dengan saudara-saudara NKRI yang memiliki konstruksi berfikir yang sama, yaitu agama dan keindonesiaan adalah dua hal yang berbeda sekaligus sama.

Berbeda karena memiliki keimanan yang berbeda, tapi sama karena memiliki tanah air yang sama. Solusi teman-teman NU (Nahdatul Ulama) dengan Islam Nusantara, menurut saya adalah solusi elegan dari teman-teman muslim dalam menjawab radikalisme agama.

TERKAIT : Apa yang Dimaksud dengan Islam Nusantara?

Menanggapi itu, saya menyarankan solusi yang senada yaitu Kristen Nusantara.  Realitas kebangsaan Indonesia adalah realitas Ilahi.  Bukan hanya itu, setiap bangsa memiliki DNA Ilahi masing-masing, termasuk Arab dan Israel.

Tuhan cinta segala bangsa, dan tidak berniat untuk menghilangkan identitas kebangsaan itu. Masing-masing disayang dan berkati. Sebab itu sebagai pengikut Kristus (Kristen) di Indonesia, maka keIndonesiaan kita harus tetap ada, bahkan harus nyata.

Dan ruh dari Indonesia adalah Nusantara. Sebab itu, menjadi Kristen yang Nusantara adalah sesuatu yang tidak menyalahi iman Kristen, bahkan sebanarnya sebuah kewajiban. Kita adalah Warga Negara Kerajaan Surga yang diutus menjadi garam dan terang bagi Indonesia.

WNI Kristen hadir di Indonesia untuk memberkati Indonesia, bukan untuk mengutuki, atau menyebarkan kebencian, apalagi berita kebohongan atau hoax. Kita cinta Tuhan, dan cinta Indonesia.

Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
(Wahyu 7:9)

Penulis : Hanny Setiawan

 

Comments

https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2016/12/mainagama.gif?fit=440%2C247https://i1.wp.com/www.beritamujizat.com/wp-content/uploads/2016/12/mainagama.gif?resize=440%2C247Hanny SetiawanEditorialdialog agama,islam nusantara,kristen nusantara,radikalisme agamaBeritaMujizat.com - Editorial - Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, kasus-kasus radikalisme agama telah mencoreng kebhinekaan NKRI. Bom Samarinda, Baliho mahasiswi berhijab di UKDW dan Sanata Dharma, sampai berita terakhir ditangkapnya para radikalis di Bekasi, bukanlah sebuah soal kasus di kelas-kelas teologi, tapi sebuah realitas. Kasus-kasus yang murni agama diatas,...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan